Seorang pemilik restoran akan memutar musik untuk menambah kenyamanan bagi para pelanggan, karena pemutaran musik ternyata memiliki pengaruh positif yang besar seperti meningkatnya selera makan dan membuat pelanggan membeli item tambahan ketika memesan makanan pada restoran.

Akan tetapi, pemilik restoran ternyata juga harus membayar royalti atas lagu atau musik yang diputar.

Pembayaran royati tersebut diatur dalam Pasal 3 ayat (1) PP No. 56 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik yang menyebutkan jika setiap orang dapat melakukan penggunaan secara komersial lagu dan/atau musik dalam bentuk layanan publik yang bersifat komersial dengan membayar royalti kepada Pencipta, Pemegang Hak Cipta, dan/atau pemilik Hak terkait melalui LMKN.

Pembayaran royalti, pada dasarnya dilakukan oleh setiap orang yang menggunakan lagu dan/atau musik dalam bentuk layanan publik yang bersifat komersial. Bentuk-bentuk layanan publik tersebut lalu dijelaskan dalam Pasal 3 ayat (2) yang meliputi:

  1. seminar dan konferensi komersial;
  2. restoran, kafe, pub, bar, bistro, kelab malam, dan diskotek;
  3. konser musik;
  4. pesawat udara, bus, kereta api, dan kapal laut;
  5. pameran dan bazar
  6. bioskop;
  7. nada tunggu telepon;
  8. bank dan kantor;
  9. pertokoan;
  10. pusat rekreasi;
  11. lembaga penyiaran televisi;
  12. lembaga penyiaran radio;
  13. hotel, kamar hotel, dan fasilitas hotel; dan
  14. usaha karaoke.

Untuk dapat menggunakan lagi ataupun music lainnya pada layanan publik yang bersifat komersial dilakukan dengan mengajukan permohonan Lisensi kepada Pemegang Hak Cipta atau pemilik Hak Terkait melalui Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dengan mengisi form lisensi melalui website LMKN.

LMKN atau Lembaga Manajemen Kolektif Nasional dibentuk berdasarkan UU No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta sebagai lembaga nirlaba badan hukum yang diberi kuasa oleh Pencipta, Pemegang Hak Cipta, dan/atau pemilik Hak Terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalti.

Mengenai tarif royalti pada bidang usaha jasa kuliner secara khusus diatur di Pasal 1 ayat (4) Keputusan Menteri Hukum dan HAM No. HKI.2.OT.03.01-02 Tahun 2016 Tentang Pengesahan Tarif Royalti Untuk Pengguna Yang Melakukan Pemanfaatan Komersial Ciptaan dan/atau Produk Hak Terkait Musik dan Lagu dimana ditentukan tarif royalti bermusik pada Restoran dan Kafe berdasarkan tiap kursi per tahun, dengan ketentuan bahwa Royalti Pencipta sebesar Rp 60.000,- per kursi per tahun dan Royalti Hak Terkait sebesar Rp 60.000,- per kursi per tahun.

Lalu ke mana dana yang dihimpun itu digunakan? Sesuai dengan tujuan dari penghimpunan royalti yang dilakukan oleh LMKN maka dana yang dihimpun akan digunakan untuk:

  1. didistribusikan kepada Pencipta, Pemegang Hak Cipta, dan Pemilik Hak terkait yang telah menjadi anggota LMK;
  2. dana operasional; dan
  3. dana cadangan.