Monyet, Fotografer, dan Perlindungan HKI. Tiga kata ini sempat saling bertautan beberapa tahun lalu. Tepatnya di sekira bulan Juli 2011, kala itu seorang fotografer profesional bernama David Slater menyambangi sebuah taman nasional di Sulawesi Utara dengan tujuan ‘memburu’ foto terkait kehidupan fauna di sana.

 

Spesifik, menurut pengakuan David Slater, yang dia incar sebagai objek foto adalah kawanan monyet dari jarak dekat (close-up) dengan sudut lebar (wide angle). Di lokasi, apa yang diinginkan David Slater hampir kejadian, tetapi sulit dieksekusi karena sang objek foto selalu menghindar ketika ingin difoto.

 

Tak kehabisan akal, lalu David Slater menyiasatinya dengan meletakkan kamera dengan tripod di lokasi. Selang beberapa waktu, kamera David Slater ternyata menarik perhatian seekor monyet betina. Di luar dugaan, monyet itu melakukan swafoto (selfie) dengan kamera tersebut, sayang hasilnya kurang bagus.

 

Demi hasil foto yang lebih oke, David Slater menata ulang letak serta pengaturan sistem kameranya. Sekali lagi, monyet betina tersebut mendekat lalu melakukan selfie beberapa kali. David Slater kali ini beruntung karena satu dari sekian ‘jepretan’ selfie itu hasilnya bagus.

 

Hasil foto monyet selfie itu dikirim David Slater ke media terkemuka tentang kehidupan alam, National Geographic serta sejumlah media lain. Akhirnya, foto monyet selfie tayang di Daily Mail, perusahaan media terkenal di wilayah Britania Raya, dan menjadi viral di seluruh dunia.

 

Masalah kemudian muncul ketika foto monyet selfie itu juga tayang di laman ensiklopedia, Wikipedia dengan label sebagai karya ‘Milik Publik’. Label itu diberikan Wikipedia dengan alasan seekor monyet tidak memiliki hak cipta. Merasa keberatan, tahun 2014, David Slater pun menuntut Wikipedia agar foto miliknya itu dihapus.

 

Wikipedia menolak tuntutan tersebut dan di luar dugaan David Slater justru diserang oleh People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), lembaga pemerhati fauna. Mengaku bertindak atas nama si monyet betina yang kemudian terungkap ternyata bernama Naruto, PETA menggugat hak cipta yang diklaim David Slater.

 

Dalam gugatan yang teregister di Pengadilan California, Amerika Serikat, PETA berargumen hak cipta foto tersebut milik Naruto. Alasannya, foto itu tercipta atas usaha Naruto sendiri, tanpa bantuan David Slater. Gugatan PETA kandas, karena hakim berpendapat Naruto tidak memiliki legal standing.

 

Meskipun sempat mengajukan upaya banding, gugatan akhirnya berujung damai di luar pengadilan. Dalam kesepakatan damai, David Slater berjanji akan menyisihkan keuntungan dari foto tersebut untuk mendanai kegiatan taman nasional, tempat dimana Naruto hidup.

 

Dalam artikel berjudul “Can the monkey selfie case teach us anything about copyright law?” yang tayang di Majalah WIPO, akademisi HKI dari University of Sussex, Inggris bernama Andres Guadamuz menyatakan kasus foto monyet selfie mengandung banyak dimensi permasalahan yang kelak berguna bagi perkembangan HKI.

 

Dimensi permasalahan utama tentunya terkait klaim kepemilikan hak cipta. Untuk menjawab persoalan ini, Andres menjabarkan kasus Painer v. Standard Verlags GmbH yang menurutnya kemiripan dengan kasus foto monyet selfie David Slater.

 

Dalam kasus tersebut, seorang fotografer asal Austria bernama Eva-Maria Painer menggugat sejumlah media berbahasa Jerman atas foto seorang anak korban penculikan. Painer mengklaim foto tersebut miliknya dan telah digunakan tanpa izin oleh sejumlah media berbahasa Jerman yang ia gugat.

 

Di persidangan, hakim the Court of Justice of the European Union (CJEU) berpendapat sebuah karya dianggap original jika dibuat atas kreasi intelektual si pencipta serta karya tersebut dapat merefleksikan diri si pencipta. Lebih detail, hakim menjabarkan sejumlah elemen untuk menentukan originalitas sebuah foto.

 

Elemen-elemen tersebut antara lain pilihan kreativitas serta sentuhan pribadi si fotografer dalam menentukan latar, posisi, pencahayaan, dan pemilihan teknik fotografi. Jika elemen-elemen tersebut terpenuhi, maka foto tersebut layak disebut asli dan berhak mendapatkan perlindungan hak cipta.

 

Kasus kedua yang menjadi rujukan Andreas adalah kasus Temple Island Collections Ltd v. New English Teas. Dalam kasus yang terjadi di sekira tahun 2012 ini, Temple Island, sebuah perusahaan yang memproduksi suvenir wisata menggugat New English Teas, sebuah perusahaan yang memproduksi pernak-pernik teh.

 

Temple Island menyebut karya mereka berupa foto ikonik Gedung Parlemen Inggris telah digunakan tanpa izin oleh New English Teas. Tuduhan ini disangkal, New English Teas berdalih foto yang mereka gunakan bukan versi original dari karya Temple Island. New English Teas telah menyunting foto tersebut menjadi berwarna hitam putih.

 

Dalam persidangan hakim menjadikan kasus Painer v. Standard Verlags GmbH sebagai rujukan. Menurut hakim, originalitas sebuah karya sangat ditentukan oleh pilihan kreativitas yang melekat pada karya tersebut. Sepanjang karya tersebut dibuat atas dasar pilihan kreativitas si pencipta, maka hak cipta menjadi milik si pencipta.

 

Lebih detail, hakim yang menangani kasus Temple Island Collections Ltd v. New English Teas menjabarkan elemen-elemen yang dapat menentukan originalitas sebuah karya foto, yakni sudut pengambilan foto, pencahayaan, efek warna, teknik, pengaturan lokasi, dan momentum.

 

Dari dua contoh kasus di atas, Andreas dalam artikel berpendapat David Slater berhak mengklaim kepemilikan hak cipta atas foto monyet selfie yang viral itu.