Pada masa yang serba digital ini, ada beberapa masyarakat Indonesia yang mengambil gambar hasil karya orang lain dengan tujuan komersial tanpa memberikan credit atau mencantumkan nama pemilik hak cipta. Dalam hal pelanggaran ini Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Bambang Gunawan mengatakan bahwa banyak praktik pembajakan, plagiat, dan pelanggaran kekayaan intelektual yang terjadi di dunia digital yang memberi dampak kerugian bagi negara dengan jumlah yang sangat besar, berpengaruh terhadap insentif seseorang dalam berkreasi dan berinovasi serta berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk sadar mengenai hak kekayaan intelektual sebagai pengguna hasil karya ataupun pencipta karya itu sendiri. Dalam hak kekayaan intelektual seorang pencipta memiliki hak cipta yang merupakan hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hak Cipta tunduk pada stelsel deklaratif sehingga lahirnya hak atas suatu ciptaan atau pelindungan bukanlah pada saat pendaftaran tetapi justru pada saat pertama kali diumumkan. Artinya pelindungan hukum atas suatu ciptaan bersifat otomatis yaitu suatu ciptaan mendapatkan pelindungan hukum sejak pertama kali ide diwujudkan dalam bentuk nyata atau sejak dipublikasikan ke masyarakat tanpa mensyaratkan pendaftaran.

Adapun berbagai ciptaan yang dilindungi meliputi ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, terdiri atas:

  1. buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis Lainnya;
  2. ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan sejenis lainnya;
  3. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
  4. lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks;
  5. drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
  6. karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;
  7. karya seni terapan;
  8. karya arsitektur;
  9. peta;
  10. karya seni batik atau seni motif Kain;
  11. karya fotografi;
  12. Potret;
  13. karya sinematografi;
  14. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;
  15. terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;
  16. kompilasi Ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan Program Komputer maupun media lainnya;
  17. kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;
  18. permainan video; dan
  19. Program Komputer.

Sesuai dengan Pasal 9 UU Hak Cipta, seorang Pencipta atau Pemegang Hak Cipta memiliki hak ekonomi untuk melakukan:

  1. penerbitan Ciptaan;
  2. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;
  3. penerjemahan Ciptaan;
  4. pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian Ciptaan;
  5. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;
  6. pertunjukan Ciptaan;
  7. Pengumuman Ciptaan;
  8. Komunikasi Ciptaan; dan
  9. penyewaan Ciptaan.

Oleh karena itu untuk melakukan hak ekonomi seperti di atas setiap orang wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta terlebih dahulu, dan dilarang untuk melakukan penggandaan dan/atau penggunaan secara komersial ciptaan tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta.

Apabila terjadi pelanggaran hak cipta maka penyelesaian sengketa Hak Cipta dapat dilakukan melalui arbitrase, pengadilan niaga, atau Penyelesaian sengketa di luar pengadilan atas pelanggaran hak cipta yang terjadi pada platform digital dimana pemegang hak cipta mengajukan take down terhadap ciptaannya yang telah diunggah tanpa hak oleh seseorang di platform digital.

Namun salah satu cara yang dapat kamu lakukan untuk menggunakan gambar atau foto secara aman adalah dengan menggunakan gambar yang memiliki lisensi creative commons. Lisensi Creative Commons menghubungkan pencipta dengan pengguna internet untuk bersepakat dalam penggunaan ciptaan sesuai izin pencipta. Creative Commons memberikan kebebasan kepada pencipta memilih atribusi yang dikehendaki, dengan begitu penggunaan konten dalam Creative Commons akan menjadi sah karena dengan seizin dari penciptanya. Kewajiban pengguna yang mengambil konten di Creative Commons adalah tetap mencantumkan nama penciptanya. Oleh karena itu Creative Commons dapat menjadi alternatif guna melindungi hak cipta di internet. Selain itu masyarakat juga dapat menggunakan situs-situs yang menyediakan gambar secara gratis untuk kepentingan komersial seperti Pixabay, Pexels, Unsplash, dan lain-lain.