Beberapa tahun belakangan ini profesi koki sedang menanjak populer. Pangkal penyebabnya adalah maraknya acara-acara reality show tentang perlombaan memasak di layar kaca. Profesi yang lazimnya diidentikkan dengan kaum feminim ini pun tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

 

Jauh sebelum tahun masehi dimulai, profesi koki juga sempat populer lantaran menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan hukum hak kekayaan inteletual (HKI). Peristiwa bersejarah itu terjadi di Sybaris, sebuah kota kuno di negeri Italia bagian selatan.

 

Otoritas di Sybaris, sebagaimana dikutip dari sebuah artikel berjudul “History of Patent Law” yang tayang di laman resmi University of Southern California, Sybaris, menerapkan sebuah aturan tentang pemberian hak eksklusif atas kreasi hidangan yang dimiliki para koki di sana.

 

Aturan menyatakan bahwa kreasi hidangan seorang koki menjadi hak eksklusif yang bersangkutan dan tidak boleh digunakan oleh koki-koki lain dalam rentang waktu setahun. Setelah setahun, hak eksklusif itu berakhir, dan kreasi hidangan si koki tersebut pun boleh digunakan oleh koki-koki lainnya.

 

Para ahli dan pemerhati HKI menasbihkan aturan yang berlaku di Sybaris itu sebagai referensi pertama sekaligus paling tua terkait perlindungan HKI.

 

Setelah itu, memasuki tahun masehi, jejak sejarah perkembangan HKI muncul di sejumlah negara di Benua Eropa dan Amerika. Bermula di Alexandria, Roma. Seorang hakim bernama Vitruvius menjatuhkan vonis bersalah terhadap beberapa penyair karena terbukti mencuri karya orang lain.

 

Lalu, sekira tahun 1416, Dewan Agung di Venesia, Italia telah memberikan hak paten khusus kepada Ser Franciscus Petri terkait temuannya berupa teknologi yang mengubah bahan wol menjadi kain tenun.

 

Lima tahun kemudian, seorang insinyur bernama Filippo Brunelleschi mendapat perlindungan HKI atas ciptaannya berupa alat pengangkut marmer. Bergeser dari Italia, Parlemen di Inggris menerbitkan Statute of Monopolies pada tahun 1623 yang dinobatkan oleh Pakar HKI asal Australia, Luigi Palombi sebagai “Induk Hukum Paten Moderen” bagi negara-negara Common Law.

 

Salah satu substansi penting dari Statute of Monopolies adalah pengaturan tentang rentang waktu hak eksklusif atas suatu penemuan yakni berlaku selama 14 tahun. Konsep yang diterapkan dalam Statute of Monopolies lalu diadopsi oleh Statute of Anne yang lahir satu abad setelahnya.

 

Statute of Anne mengatur tentang perlindungan hak cipta, dimana ditetapkan bahwa rentang waktu kepemilikan hak cipta berlaku selama 14 tahun dengan ketentuan dapat diperpanjang untuk 14 tahun berikutnya.

 

Lahirnya Statute of Anne dilatarbelakangi situasi dimana ketika itu banyak pihak melakukan penggandaan atau pencetakan ulang buku dan kemudian mempublikasikannya secara luas, tapi tanpa seizin si penulis. Jadi, Statute of Anne diterbitkan oleh otoritas Kerajaan Inggris demi melindungi hak-hak para penulis.

 

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), undang-undang yang mengatur tentang hak paten pertama kali terbit di tahun 1790. Namun begitu, tiga tahun sebelumnya, Pasal 1 bagian 8 Konstitusi AS sebenarnya telah memuat aturan yang memberi mandat kepada Konggres untuk melindungi hak-hak para penemu.

 

Di Tahun 1836, Pemerintah AS membentuk sebuah kantor khusus dalam struktur State Department yang mengurusi perlindungan hak paten. Lingkup tugas unit tersebut antara lain memeriksa dan menilai aspek kebaruan dari setiap permohonan paten yang diajukan.

 

Pembentukan kantor paten tersebut dilatarbelakangi oleh pesatnya permohonan paten di AS. Terhitung tiga tahun sejak undang-undang paten lahir, 55 permohonan paten disetujui. Lalu melonjak drastis pada tahun 1836 menjadi 10.000 permohonan paten disetujui.

 

Sayangnya, sempat terjadi bencana kebakaran melanda kantor paten AS sehingga ribuan koleksi paten musnah. Dari koleksi total sekitar 10.000, tersisa hanya sekitar 2.845. Dari kejadian ini, kantor paten di AS menerapkan prosedur baru bahwa setiap permohonan harus diajukan secara rangkap.

 

Di tahun 1890, muncul sebuah fenomena dimana hak eksklusif paten dijadikan alat bagi paru pelaku industri untuk melakukan monopoli. Dari fenomena inilah kemudian muncul Sherman Antitrust Act, sebuah undang-undang tentang larangan praktik monopoli dalam dunia bisnis.

 

Dilatarbelakangi kondisi ekonomi AS yang tengah anjlok, banyak pihak yang menentang perlindungan hak paten. Tidak hanya menentang, mereka juga berupaya mengajukan permohonan pembatalan paten melalui lembaga pengadilan. Akibatnya, cukup banyak paten yang akhirnya dibatalkan oleh hakim.

 

Untungnya, masa-masa kelam perlindungan paten berakhir di tahun 1980-an. Para pelaku industri di AS mulai kembali menyadari betapa pentingnya hak paten untuk melindungi kepentingan bisnis mereka. Oleh karenanya, rezim perlindungan paten tidak lagi dibenturkan dengan rezim anti monopoli.

 

Dari sisi kelembagaan, perkembangan positif perlindungan hak paten ditandai dengan dialihkannya penanganan kasus-kasus paten dari Court of Customs and Patent Appeals ke Court of Appeals for the Federal Circuit.

 

Dikutip dari laman resmi Pemerintah AS, www.usa.gov, yurisdiksi kewenangan Court of Appeals for the Federal Circuit antara meninjau ulang keputusan pemberian hak paten yang diterbitkan oleh Patent and Trademark Office.