Merek dagang lazimnya berbentuk nama, simbol, logo, penggalan kata atau frase. Namun, Harley Davidson, sebuah perusahaan otomotif terkenal asal Milwaukee, Amerika Serikat yang identik dengan motor gede berupaya mendaftarkan jenis merek dagang yang tidak lazim, yakni suara mesin.

 

Harley Davidson mengklaim motor gede tipe V-Twin pabrikannya mengeluarkan suara mesin yang khas. Saking khasnya, suara mesin motor tipe V-Twin seringkali disebut seperti suara letusan kecil berbunyi “potato-potato-potato”. Atas dasar inilah, Harley percaya diri mengajukan permohonan pendaftaran merek atas suara mesin tersebut.

 

Naasnya, langkah Harley berupaya dijegal oleh dua produsen motor asal Jepang, Honda dan Yamaha. Keduanya berpendapat suara mesin motor V-Twin pada umumnya memang seperti itu. Makanya, menurut pihak Honda dan Yamaha, Harley tidak berhak mengklaim suara mesin V-Twin.

 

Perlawanan Honda dan Yamaha berhasil. Di tahun 2020, pihak Harley akhirnya memutuskan untuk menarik permohonan pendaftaran merek atas suara mesin V-Twin. Sebelum keputusan ini, total kurang lebih enam tahun, Harley berjuang dengan menghabiskan biaya ribuan dollar.

 

Harley sebenarnya bukan pihak pertama yang berupaya mendaftarkan suara sebagai merek. Sebelumnya, perusahaan produsen dan distributor film Metro-Goldwyn-Mayer (MGM) berhasil mendaftarkan ‘Suara Singa’ yang muncul bersamaan dengan logo MGM di setiap awal film.

 

Raksasa media, National Broadcasting Company (NBC) juga berhasil mendaftarkan suara lonceng tiga nada khas milik mereka sebagai mereka. Senasib, perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat, AT&T berhasil mendaftarkan bunyi ucapan “AT&T” sebagai merek.

 

Di luar MGM, NBC, dan AT&T, United States Patent and Trademark Office (USPTO) mencatat hingga tahun 1998, total 23 merek dalam format suara berhasil didaftarkan.

 

Setelah membaca kisah di atas, mungkin kini muncul pertanyaan di benak anda, apakah bisa sebuah suara didaftarkan merek? Jawabannya, ya bisa. Setidaknya begitu menurut hukum yang berlaku di Negeri Paman Sam.

 

Merujuk pada Lanham Act, definisi merek adalah “any word, name, symbol, or device, or any combination thereof… used by a person… to identify and distinguish his or her goods, including a unique product, from those manufactured or sold by others and to indicate the source of the goods, even if that source is unknown.”

 

Berangkat dari definisi tadi, maka objek merek sebenarnya bisa apapun sepanjang hal tersebut dapat mengindikasikan ‘keaslian’ karakter dari suatu produk. Menurut International Trademark Association, suara termasuk kategori merek non-tradisional yang mulai diakui di beberapa negara.

 

Selain suara, yang termasuk dalam kategori merek non-tradisional antara lain desain produk, kemasan, konfigurasi, warna, aroma, rasa, sentuhan, dan gambar bergerak.

 

Lebih maju dari Lanham Act, regulasi yang berlaku di Indonesia justru sudah spesifik menyebutkan suara sebagai salah objek yang dapat didaftarkan sebagai merek. Penyebutan itu terdapat dalam Pasal 1 Butir 1 UU Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

 

Lengkapnya Pasal 1 Butir 1, “Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hu[um dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa”.

 

Rumusan definisi merek dalam UU Nomor 20 Tahun 2016 berbeda dengan dua regulasi merek yang sebelumnya berlaku, yakni UU Nomor 15 Tahun 2001 dan UU Nomor 19 Tahun 1992 yang sempat diamandemen oleh UU Nomor 14 Tahun 1997, definisi merek adalah “tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa”.

 

Penjabaran lebih lanjut tentang prosedur pendaftaran merek berupa suara tertuang dalam “Modul Kekayaan Intelektual: Bidang Merek dan Indikasi Geografis” dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (Ditjen KI), Kementerian Hukum dan HAM yang dirilis tahun 2019.

 

Menurut Modul Ditjen KI, untuk mendaftarkan merek berupa suara, maka pemohon disyaratkan untuk melampirkan label berupa notasi dan rekaman suara. Jika, suara yang akan didaftarkan sebagai merek tersebut tidak dapat ditampilkan sebagai notasi, maka yang dilampirkan adalah sonogram.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi sonogram adalah rekaman atau gambar yang dihasilkan dari pemeriksaan ultrasonik. Istilah sonogram sebenarnya lebih sering digunakan dalam konteks kehamilan, dimana masyarakat umum mengenalnya dengan istilah Ultrasonografi atau USG.

 

Merujuk pada laman Pangkalan Data Kekayaan Intelektual, salah satu contoh pendaftaran merek berupa suara adalah yang didaftarkan oleh Hisamitsu Pharmaceutical Co. Perusahaan farmasi asal Jepang ini mendaftarkan notasi not balok berbunyi “Hi-Sa-Mi-Tsu”.

 

Notasi not balok “Hi-Sa-Mi-Tsu” didaftarkan Mei 2020 lalu untuk kategori kode kelas 10 dan 5 yang akan berakhir periode perlindungannya pada tanggal 26 September 2027.