Alkisah muncul kehebohan di kalangan Ibu-Ibu khususnya yang bergiat di usaha kuliner. Kehebohan ini disebabkan oleh didaftarkannya kata “Bomboloni” oleh seorang pengusaha kuliner lokal di Bandung sebagai merek, dan berdasarkan pendaftarannya itu tadi si pengusaha dengan jumawanya langsung sibuk melarang-larang orang lain berjualan makanan pakai nama bomboloni. Menurut si pengusaha, “jika mereka menggunakan itu berarti mereka menjual merek saya”, sehingga ia pun “akan lakukan jalur hukum”.

Hebat benar memang manusia-manusia Indonesia dewasa ini. Saking “sadar hukum”-nya lantas semua hal mau dilakukan dengan jalur hukum. Padahal belum tentu dia sendiri paham mengenai apa jalur hukum yang mau diambilnya.

Tapi sebentar, bomboloni… Mahluk apa sih itu?

Oke, saya yakin kalau “donat”, Anda semua pasti tahu. Nah, “bomboloni” ini masih sepupu jauh sama donat yang jadi klangenannya polisi-polisi di film Amrik kalau lagi giliran jaga di mobil patroli itu. Bedanya, bomboloni ini mungkin dimakan oleh polisi-polisi Italia kalau lagi mau menggrebek para mafioso.

Kalau kata Pakde Wiki, bomboloni ini adalah donat khas daerah Tuscany yang berbentuk bantalan dengan isian di dalamnya. Jadi tidak seperti donat-donat konvensional yang bolong di tengah dan berbentuk seperti cincin. Kalau di Jerman, donat serupa bomboloni namanya Berliner, sedang di Austria namanya krapfen.

Nah, kalau memang “bomboloni” adalah nama jenis makanan tradisional dan khas daerah tertentu, apakah bisa didaftarkan sebagai merek sehingga si pendaftar bisa punya hak eksklusif atas makanan tersebut?

Nanti dulu. Nama makanan memang bisa menjadi merek yang dapat didaftarkan untuk memperoleh hak eksklusif. Tapi tentunya hanya untuk nama rekaan yang baru, bukan nama makanan yang sudah dikenal lama dan sudah menjadi nama yang generik untuk makanan tersebut.

Contohnya, “frappuccino” adalah merek terdaftar dan hak eksklusif milik Starbucks Corporation, namun tidak ada seorang pedagang kopi pun yang bisa punya hak eksklusif atas “es kopi susu” atau “es kopi campur”. Atau “Big Mac” yang menjadi hak eksklusifnya McDonald’s seperti halnya “Whopper” miliknya Burger King, meski tak ada seorang pun yang bisa melarang orang lain menjual “hamburger”.

Kecuali kalau makanannya sendiri memang kreasi baru yang sebelumnya tidak ada, sehingga nama yang diberikan oleh si kreator bisa langsung didaftarkan juga sebagai merek. Contoh ketika juru masak kenamaan Dominique Ansel sukses melangsungkan akad nikah antara donat dan croissant di New York, sehingga hasilnya langsung ia beri nama cronut dan ia daftarkan mereknya.

Jangan lupa, UU no. 20 tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis Pasal 20 huruf b menyatakan bahwa Merek tidak dapat didaftar jika sama dengan, berkaitan dengan, atau hanya menyebut barang dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya.

Lho kalau begitu, kenapa bomboloni tadi bisa didaftar?

Kalau yang saya lihat dari database online DJKI, pendaftaran Bomboloni sebagai merek itu memang ada. Akan tetapi, Bomboloni terdaftar bukan di kelas barang 30 di mana jenis-jenis makanan seperti kue, roti dan juga donat bernaung; melainkan di kelas jasa 35 yang menaungi jasa-jasa perdagangan dan periklanan. Kalau kita telusuri lebih jauh, di uraian jasa merek “BOMBOLONI” dengan nomor pendaftaran IDM000912862 tersebut termuat – bahasa Sundanya – saborondoyot jenis-jenis jasa perdagangan mulai dari jasa administrasi perdagangan sampai ke jasa perdagangan alat-alat listrik.

Ibarat kata, kalau si pemilik merek mau buka pusat perbelanjaan seperti Bomboloni Department Store, atau Bomboloni Trade Center, maka ia bisa melarang orang lain membuka pusat perbelanjaan dengan nama yang sama.

Lantas gimana dengan orang lain yang jualan bomboloni? Apa bisa dia larang juga?

Ohh tentu tidak semudah itu…

Hak eksklusif yang dimiliki oleh seorang pemilik merek terdaftar hanya sebatas kelas dan jenis barang/jasa untuk mana mereknya didaftarkan, dan barang/jasa lain yg bisa dianggap sejenis.

Bahwa seseorang punya merek terdaftar di kelas 35 untuk nama toko, bukan berarti dia bisa melarang orang lain untuk jualan barang yang namanya sama dengan nama tokonya. Apple Corporation misalnya, selain kelas 9 untuk ponsel dan gadget, juga punya pendaftaran merek di kelas 35 untuk Apple Store. Tapi bukan lantas Apple bisa ngomelin tukang buah sedunia dan melarang mereka jualan apel, atau nyuruh mereka mengganti nama apel menjadi semangka, misalnya, cuma karena dia punya merek terdaftar Apple di kelas 35.

Apalagi kalau nama barang dagangan yang disuruh diganti tadi justru merupakan nama generik untuk barang itu. Mari kita berandai-andai, kalau sekiranya pemilik merek terdaftar Bomboloni di Kelas 35 tadi nekat mendaftarkan merek yg sama di kelas 30 yang menaungi donat dkk., maka jika para pemeriksa merek di DJKI punya sambungan internet yang memadai sekadar untuk mengecek apa itu “bomboloni”, bisa dapat dipastikan permohonan kelas 30 tersebut tidak akan diterima.

Bahkan bukan tidak mungkin, pendaftaran merek Bomboloni di Kelas 35 tadi justru terkena gugatan pembatalan setidaknya untuk jenis-jenis perdagangan yg berhubungan dengan makanan (jenis jasa yang didaftarkan memuat juga “Booth penjualan minuman ringan serta makanan, Booth penjualan wedang ronde, Booth untuk penjualan es krim, Counter untuk penjualan es krim, Eceran dan grosir minuman, Eceran dan grosir toko roti, Gerai penjualan makanan dan minuman, iklan online”), yang diajukan oleh pihak lain yg berkepentingan (misalnya sesama pengusaha kuliner yang merasa dirugikan) berdasarkan Pasal 76 Undang-Undang no. 20 tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

Mencari rejeki memang hak semua orang, tentunya dengan cara yang halal, termasuk berusaha kuliner dengan berjualan makanan. Semakin unik makanan yang dijual biasanya memang semakin menarik perhatian. Cuma ya berdaganglah secara fair, secara adil, dan berkompetisilah secara sehat. Tidak perlu serakah dengan berupaya untuk menguasai semua untuk dirinya sendiri, apalagi sampai melarang orang lain menggunakan sesuatu yang sesungguhnya menjadi milik umum dengan menyalah-gunakan perlindungan HKI yang sebenarnya justru dirancang untuk menghadirkan persaingan usaha yang lebih sehat.

Jadi yang jelas mau apapun jualanmu, mau combro, bakwan, ali agrem, croissant, croffle, termasuk juga Bomboloni, Adillah!

Catatan:

Telah diedit seperlunya untuk ditampilkan di situs ini. Sumber asli ada disini