Baru-baru ini, Mahkamah Agung (MA) mengabulkan Peninjauan Kembali (PK) Nagaswara Publisherindo dengan menghukum Halilintar Anofial Asmid dan Lenggogeni Umar Faruk yang juga dikenal dengan keluarga Gen Halilintar untuk membayar ganti kerugian sejumlah RP 300 juta karena melanggar hak cipta pada lagu ‘Lagi Syantik’.

Kasus ini bermula ketika Gen Halilintar memodifikasi lagu ‘Lagi Syantik’ dan menayangkan video tersebut di akun YouTube. Nagaswara sebagai pemegang label lagu ‘Lagi Syantik’ tidak terima dan menggugat Gen Halilintar untuk ganti rugi sebesar Rp 9,5 miliar karena mengalami kerugian material dan imaterial. Gugatan tersebut tercatat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan no. 82/Pdt.Sus-Hak Cipta/2019/PN.Niaga.Jkt.Pst. Namun, pada 30 Maret 2020, PN Jakpus menolak gugatan tersebut.

Merasa tidak terima atas ditolaknya gugatan tersebut, Nagaswara pun mengajukan PK dan pada 15 November 2021 Mahkamah Agung mengabulkan PK tersebut. Adapun pertimbangan dari majelis hakim mengabulkan PK tersebut ialah, bahwa:

  1. Perbuatan Tergugat yang dengan tanpa hak dan tanpa izin dari Para Penggugat telah melakukan pentranformasian Ciptaan dan melakukan komunikasi ciptaan adalah pelanggaran Hak Cipta.
  2. Perbuatan Tergugat yang dengan tanpa hak dan tanpa izin dari Para Penggugat telah melakukan fiksasi, menggandakannya dalam bentuk elektronik/digital, penerbitan karya ciptaan dan pendistribusian hasil pelanggaran karya cipta melalui media sosial adalah pelanggaran hak cipta.
  3. Bahwa perbuatan Tergugat I dan Tergugat II yang telah melakukan modifikasi dan fiksasi terhadap lagu lagi syantik dengan tanpa izin dari Para Penggugat kemudian dikomunikasikan ke akun YouTube Gen Halilintar merupakan suatu perbuatan pelanggaran hak moral/moral right dari Para Penggugat sehingga mengakibatkan Tergugat I dan Tergugat II telah melakukan perbuatan pelanggaran hak cipta tersebut maka karenanya menghukum Tergugat I dan Tergugat II untuk membayar ganti kerugian sebesar Rp 300 juta.

Lalu bagaimana cara untuk melakukan modifikasi lagu dengan tidak melanggar hak cipta?

Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, hak cipta merupakan hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Dimana seseorang yang ingin melaksanakan hak ekonomi, melakukan penggandaan dan/atau penggunaan secara komersial suatu ciptaan, maka wajib mendapatkan izin dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta terlebih dahulu. Adapun yang dimaksud dengan hak ekonomi, meliputi:

  1. penerbitan Ciptaan;
  2. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;
  3. penerjemahan Ciptaan;
  4. pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian Ciptaan;
  5. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;
  6. pertunjukan Ciptaan;
  7. Pengumuman Ciptaan;
  8. Komunikasi Ciptaan; dan
  9. penyewaan Ciptaan.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan modifikasi lagu dengan tidak melanggar hak cipta seseorang adalah dengan membuat perjanjian lisensi.  Lisensi adalah izin tertulis yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemilik Hak Terkait kepada pihak lain untuk melaksanakan hak ekonomi atas Ciptaannya atau produk Hak Terkait dengan syarat tertentu.

Dimana dalam pelaksanaan perjanjian lisensi disertai dengan kewajiban penerima Lisensi untuk memberikan Royalti kepada Pemegang Hak Cipta atau pemilik Hak Terkait selama jangka waktu Lisensi. Selain itu, perjanjian lisensi juga harus dicatatkan oleh Menteri dalam daftar umum perjanjian Lisensi Hak Cipta dengan dikenai biaya.