Dengan kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi yang pesat, mulai bermunculan aplikasi video sharing dan media sosial seperti YouTube, TikTok, Instagram, Facebook dan sebagainya. Oleh karena itu para content creator semakin leluasa mengekspresikan kreativitasnya dalam bernyanyi, kreator-kreator musik ini membuat berbagai macam lagu cover version sesuai minat dan seleranya masing-masing kemudian mengunggahnya ke berbagai aplikasi video sharing dan media sosial.

Untuk mendongkrak popularitas, kreator-kreator musik tidak hanya mengekspresikan kreativitas mereka, tetapi juga melakukan upaya mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari video yang ditayangkan dan sudah ditonton, ratusan bahkan jutaan viewers dari berbagai penjuru dunia.

Istilah cover version bisa diartikan menyanyikan ulang lagu dari artis atau penyanyi terkenal dengan tidak mengubah lirik lagu aslinya. Dalam kegiatan membuat cover version dari sebuah lagu, pihak lain memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide yang sama atau menggunakan kembali informasi yang diperoleh dari ciptaan atau karya yang dilindungi ke dalam karya sesudahnya, selama ide tersebut diekspresikan dengan cara yang berbeda.

Cover song telah banyak dilakukan oleh para musisi baik amatir maupun profesional. Beberapa cover song diproduksi ulang secara komersil, dan beberapa lagi hanya ditampilkan di situs-situs dan akun pribadi dalam media sosial sebagai bentuk kecintaan terhadap artis yang membawakan lagu tersebut dalam versi aslinya.

Sesuai dengan UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, musik atau lagu merupakan suatu kreasi intelektual dalam bidang seni, sastra dan ilmu pengetahuan yang dapat melahirkan hak cipta yang melekat pada Pencipta. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hak cipta merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Adapun hak moral meliputi:

  1. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian Ciptaannya untuk umum;
  2. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;
  3. mengubah Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;
  4. mengubah judul dan anak judul Ciptaan; dan
  5. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, mutilasi Ciptaan, modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

Sedangkan pada hak ekonomi, Pencipta dapat mendapatkan manfaat ekonomi untuk melakukan:

  1. penerbitan Ciptaan;
  2. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;
  3. penerjemahan Ciptaan;
  4. pengadaptasian, pengaransemenan, pentransformasian Ciptaan;
  5. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;
  6. Pertunjukan Ciptaan;
  7. Pengumuman Ciptaan;
  8. Komunikasi Ciptaan; dan
  9. penyewaan Ciptaan.

Oleh karena itu Setiap Orang yang melaksanakan hak ekonomi sebagaimana dimaksud wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta. Pemegang Hak Cipta atau pemilik Hak Terkait berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian tertulis untuk melaksanakan perbuatan di atas.

Dalam melakukan cover version ada beberapa hal yang dapat berpotensi melanggar hak cipta, yakni:

  1. Modifikasi lagu/musik, yaitu pengubahan pada ciptaan. Pelaku cover biasanya merubah karya musik tersebut sedemikian rupa disesuaikan dengan karakter pelaku cover.
  2. Mutilasi ciptaan, yaitu proses atau tindakan menghilangkan sebagian ciptaan.
  3. Merekam lagu dengan versi yang sama atau versi yang berbeda yang dilaksanakan oleh pihak selain produser rekaman yang diberi hak oleh pencipta. Kegiatan ini berpotensi melanggar hak penggandaan ciptaan.
  4. Menerjemahkan lagu dan/atau musik ke dalam bahasa yang berbeda dari aslinya.
  5. Mengadaptasi, mengaransemen dan mentransformasi karya musik, yaitu proses mengubah ciptaan dengan mengubah genre musik, mengubah, menambah atau menghilangkan unsur-unsur irama, nada, melodi, lirik atas lagu dan/atau musik.
  6. Mempertunjukkan karya musik, yaitu menampilkan atau mempertunjukkan karya musik kepada publik (performing rights)
  7. Mengkomunikasikan karya musik, yaitu mentransmisikan suatu ciptaan, pertunjukkan kaya musik melalui media sosial sehingga dapat diterima oleh publik.

 

Namun cover lagu di media sosial dapat dikatakan bukan pelanggaran Hak Cipta dalam batas-batas tertentu. Adapun Batasan yang dimaksud ialah:

  1. Tidak memiliki tujuan komersial.

Menurut terminologi hukum Hak Cipta, penggunaan secara komersial adalah pemanfaatan ciptaan dan/atau produk hak terkait dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan ekonomi dari berbagai sumber atau berbayar.

  1. Menguntungkan pencipta.

Cover lagu di media sosial harus menguntungkan pencipta yang dalam hal ini adalah menguntungkan hak moral dan hak ekonomi pencipta, misalnya dengan mencantumkan nama pencipta di dalam karya musik yang di-cover dan diunggah di media sosial sebagai bentuk pengakuan dirinya sebagai pencipta dan penghormatan atas karya pencipta.

  1. Pencipta tidak keberatan atas kegiatan cover version.

Dalam Pasal 43 huruf d UU Hak Cipta, menyatakan bahwa perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta apabila Pencipta menyatakan tidak keberatan atas pembuatan dan penyebarluasan tersebut.