Sebanyak enam produk pemenang Good Design Indonesia (GDI) 2021 meraih penghargaan Good Design Award (GDA) atau G-Mark yang merupakan sebuah ajang penghargaan desain tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Japan Institute of Design Promotion (JDP). Adapun enam produk yang sukses meraih penghargaan G-Mark meliputi:

  • Kubiko yang merupakan produk tas koper untuk para pelancong (traveler),
  • Poreblock merupakan produk beton berpori dalam bentuk paving block yang dapat meresapkan air,
  • Mukura BYOND sebuah roster yang berfungsi sebagai lubang angin untuk ventilasi dan penerangan alami dalam bangunan,
  • Rekajalin yaitu anyaman yang terinspirasi dari ornament relief candi dan corak anyaman suku Dayak,
  • Jukung merupakan produk wadah modern berbentuk kotak sederhana yang terinspirasi dari bentuk perahu milik para penganyam Wanita Kalimantan Selatan, dan
  • Cakra yang merupakan sebuah bangunan layang pertama di Indonesia yang berfungsi mengintegrasikan MRT Jakarta dengan Transjakarta Koridor I, XIII dan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB).

Dalam hal ini, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Didi Sumedi mengatakan keberhasilan ini menjadi bukti bahwa produk Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Desain industri merupakan salah satu alat yang penting dalam upaya meningkatkan pendapatan negara dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu Pemerintah dan pihak swasta mendorong promosi produk dalam negeri melalui kegiatan pameran berskala internasional seperti IFEX (furniture), Trade Expo Indonesia (produk unggulan nasional), INACRAFT (produk kerajinan) dan sebagainya. Selain itu, tentu saja Pemerintah juga melakukan pelindungan hukum terhadap desain industri, UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri merupakan tekad pemerintah untuk melindungi pemegang Hak Desain Industri dari berbagai bentuk pelanggaran seperti penjiplakan, pembajakan, atau peniruan. Upaya pelindungan yang lebih komprehensif tersebut diharapkan dapat menjadi faktor pendorong untuk meningkatkan daya kreativitas para pendesain dan sebagai wahana untuk melahirkan para pendesain yang produktif.

Selain itu terdapat empat alasan mengapa Indonesia memiliki UU yang khusus mengatur dan melindungi kepentingan hukum terhadap hak desain industri, meliputi:

  1. Untuk memajukan industri yang mampu bersaing dalam lingkup perdagangan nasional dan internasional maka perlu diciptakan iklim yang mendorong kreasi dan inovasi masyarakat di bidang desain industri sebagai bagian dari sistem kekayaan intelektual.
  2. Didorong oleh kekayaan budaya dan etnis bangsa Indonesia yang sangat beragam sebagai sumber bagi pengembangan desain industri.
  3. Indonesia telah meratifikasi Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang mencakup Agreement on The Trade Related Aspects Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPs) dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1994.
  4. Ketentuan TRIPs-WTO menekankan bahwa pelindungan bagi KI harus mendorong inovasi dan alih teknologi lebih lanjut persetujuan yang dimaksud agar produsen dan meningkatkan kemajuan ekonomi untuk mencapai kesejahteraan oleh karena itu sesungguhnya kegiatan ekonomi akan sangat berhubungan dengan permasalahan hukum.

Adapun desain industri memiliki ciri khusus dalam sistem pelindungan terhadap hak desain industri antara lain:

  1. Visible (dapat dilihat dengan mata);
  2. Special Appereance (menunjukkan penampilan khusus yang memperlihatkan perbedaan dengan produk lain, sehingga menarik bagi pembeli atau pengguna produk);
  3. Non-technical Aspect (hanya melindungi aspek estetika dari produk tidak melindungi fungsi teknisnya), dan;
  4. Embodiment in a utilitarian article (dapat diterapkan pada barang yang memiliki kegunaan

Pelindungan terhadap hak desain industri ini diberikan untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan dan tidak dapat diperpanjang.