Sejarah perkembangan hak kekayaan intelektual (HKI) dunia tidak mungkin dilepaskan dari keberadaan World Intelectual Property Organization (WIPO). Organ khusus dalam struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengemban misi mempromosikan perlindungan HKI ke seluruh dunia.

 

Tahun 2021 ini, WIPO yang berdiri pada tahun 1967 akan genap berusia 34 tahun. Dalam perjalanannya, terdapat setidaknya 10 momen penting terkait WIPO, dimana empat di antaranya bahkan terjadi jauh sebelum organisasi yang kini berkantor di Jenewa, Swiss itu lahir.

 

Sebagaimana dikutip dari laman resmi WIPO, www.wipo.int/about-wipo/en/history.html, berikut ini 10 momen penting dalam perjalanan sejarah WIPO:

 

Momen pertama terjadi pada tahun 1883. Saat itu, perjanjian internasional pertama yang menegaskan pentingnya perlindungan HKI yakni Paris Convention for the Protection of Industrial Property disahkan dengan ruang lingkup perlindungan terhadap paten, merek, dan desain industri.

 

Yang menarik, pembentukan Paris Convention dilatarbelakangi kisah ‘boikot’ sejumlah inventor untuk menghadiri pameran internasional di Wina, Austria. Para inventor itu menolak hadir di pameran tersebut karena khawatir karya mereka dicuri idenya oleh pihak-pihak lain.

 

Momen kedua terjadi pada tahun 1886. Rentang tiga tahun dari disahkannya Paris Convention, lahirlah Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works yang bertujuan untuk melindungi karya seni antara lain novel, cerita pendek, puisi, teater, lagu, opera, musik, lukisan, patung, dan karya arsitektur.

 

Dilatarbelakangi kampanye seorang penulis terkenal asal Perancis, Victor Hugo bersama dengan organisasi Association Littéraire et Artistique Internationale, Berne Convention memberikan hak kepada kreator seni untuk mengelola karyanya sendiri, termasuk dalam hal menerima kompensasi uang.

 

Momen ketiga terjadi pada tahun 1891. Saat itu Madrid Agreement Concerning the International Registration of Marks disahkan. Madrid Agreement dianggap fenomenal karena dari instrumen itulah muncul sebuah sistem yang dinamakan Madrid System for the international registration of marks.

 

Madrid System memungkinkan pemilik merek dagang untuk mendaftarkan merek  yang kemudian berlaku di semua negara peserta Madrid Agreement. Madrid System sebagai pusat pendaftaran merek untuk skala internasional diyakini sebagai cikal bakal keberadaan WIPO yang hingga kini juga menjalankan fungsi yang sama.

 

Momen keempat terjadi pada tahun 1893. Kala itu, berdiri the United International Bureaux for the Protection of Intellectual Property. Biro yang lebih populer dengan sebutan BIRPI menjadi semacam kantor sekretariat yang berlokasi di Berne, Swiss yang mengurus administrasi penerapan Paris Convention dan Berne Convention.

 

Momen kelima terjadi pada tahun 1970 yang ditandai dengan transformasi organisasi BIRPI menjadi WIPO dengan Convention Establishing the World Intellectual Property Organization sebagai landasan hukum. WIPO sebagai organisasi yang bersifat lintas pemerintahan bermarkas di Jenewa, Swiss.

 

Momen keenam terjadi pada tahun 1974. Menyusul momen transformasi organisasi BIRPI, WIPO akhirnya bergabung dengan PBB dengan status sebagai Specialized Agency. Dengan bergabungnya WIPO, maka negara-negara anggota PBB berhak bergabung dengan WIPO, meskipun tidak bersifat wajib.

 

Momen ketujuh terjadi pada tahun 1978 yang ditandai dengan diluncurkannya PCT International Patent System. PCT merupakan akronim dari the Patent Cooperation Treaty, sebuah perjanjian internasional yang beranggotakan 150 negara. Hingga saat ini, PCT International Patent System tercatat sebagai sistem pencatatan paten terbesar di dunia.

 

Dengan PCT International Patent System, maka pemohon cukup mendaftarkan paten miliknya sekali saja (single patent application) tetapi berlaku di semua negara. Meskipun menerapkan single application, namun kewenangan pemberian hak paten tetap diserahkan kepada otoritas negara masing-masing.

 

Momen kedelapan terjadi pada tahun 1994 yang ditandai dengan pembentukan WIPO Arbitration and Mediation Center. Lembaga yang bermarkas di Jenewa, Swiss yang juga memiliki kantor perwakilan di Singapura ini dirancang sebagai forum penyelesaian alternatif untuk sengketa HKI antar perusahaan atau dengan pihak swasta lainnya.

 

WIPO Arbitration and Mediation Center menangani sengketa yang berkaitan dengan perjanjian seperti perjanjian lisensi paten, perjanjian merek, perjanjian distribusi, dan perjanjian riset dan pengembangan. Selain itu, mereka juga menangani perkara yang tidak berkaitan dengan perjanjian seperti pelanggaran paten atau merek.

 

Momen kesembilan terjadi pada tahun 1998 yang ditandai dengan prakarsa WIPO membentuk sebuah lembaga pendidikan, WIPO Academy. Melalui lembaga ini, WIPO menyelenggarakan kursus-kursus yang berkaitan dengan aspek teori dan praktik HKI. Target pasar WIPO Academy adalah para praktisi di bidang HKI.

 

Momen kesepuluh terjadi pada tahun 2007. Di momen ini, WIPO merancang sebuah Development Agenda yang terdiri 45 butir rekomendasi terbagi menjadi enam kelompok, yaitu: (1) Technical Assistance dan Capacity Building; (2) Norm-setting, flexibilities, public policy and public domain;

 

(3) Technology Transfer, Information and Communication Technologies (ICT) and Access to Knowledge; (4) Assessment, Evaluation and Impact Studies, (5) Institutional Matters including Mandate and Governance; dan (6) Other Issues.

 

Menjadi bagian dari Development Agenda ini juga dibentuk Committee on Development and Intellectual Property (CDIP) yang menjalankan tugas antara lain menyusun rencana kerja, mengawasi, serta membuat laporan  terkait implementasi 45 butir rekomendasi yang termaktub dalam Development Agenda.

 

Sumber foto: sumber foto: www.wipo.int